18 Februari 2009

Bertaman Benih Kasih


“Rupa wajahnya tak pernah hilang dari benakku karena semampai tubuhnya yang mungil senantiasa menari-nari dalam ketermenunganku. Engkau memang jarang kutatap. Tapi dari kejauhan bayangmu mampu menarik diriku kedalam ilusi harianku. Maaf bila aku belum mampu untuk menjawab satu keinginanmu” ;terawang Ringo. Seperti juga tuntunan Cenda yang selalu terngiang di telinganya “Ikatkan diriku dalam hatimu yang sebenarnya”.

Dibawah keremangan cahaya lampu, disatu meja agak menyudut kebelakang dalam ruangan yang telah menjadi saksi dari janji dan kata-kata mereka. Di tingkahi alunan musik latin yang mewarnai ruangan kafe, mampu menjinakkan diri Ringo untuk terus menikmati malam ditempat itu. Diluar kafe suasana sedikit riuh lantaran bulan penuh memancarkan sinarnya. Mereka yang sesekali keluar demi menghirup udara tampak gembira disirami cahaya purnama.

Malam itu Ringo sungguh memiliki sejuta sabar. Tak ada yang bisa mengusiknya untuk tidak menunggu Cenda karena hasrat mesti disalurkan. Dari darah yang hampir memuncak dihindari untuk menuju ubun-ubun. “Tidak mengapa jika sampai pagi menjelang pun, aku tetap menunggu karena Cenda memang sudah janji untuk datang menemuinya. “Oh, gadis Chinesku, akan kutunaikan segala inginku kepadamu” ; dalam hati Ringo.

“Hai” ;Ringo berpaling ketika sapaan itu menembus telinganya. “Maaf ya, si Firly itu, dia kebanyakan minum. Mabok!” kesal Cenda pada temannya itu dia curahkan kehadapan Ringo. Sekilas dia pandang raut mukanya. “Ah, amoyku ini masih tetap cantik meski dia sedang marah”.

Ringo meraih kedua tangannya setelah Cenda tenang dan duduk didepannya. Jemari itu sangat lembut dan dingin. Ringo menarik lebih dekat ke bibirnya, dan mengecupnya. Tapi, secepat itu Cenda mencuil hidungnya.
“Ini nakal” ; katan Cenda manja.
“Senakal apa” ;balasnya terus menatap.
“Senakal bibir yang ini” telunjuk Cenda menempel dibibirnya.
“Tapi doyan kan?” Cenda tidak menjawab. Namun Ringo tahu bahwa gadisnya itu suka jika mulutnya rajin melumatnya.

Cenda Dianty Low, turunan Cina. Umurnya baru sembilan belas tahun. Ranum, tapi sangat dewasa dengan penampilannya. Dia baru melangkah ke semester dua pada sebuah universitas di Jakarta.
“Masih kerasan disini, Bang?” ;tiba-tiba Cenda menghentikan hayalannya. Ringo tengah berpikir oleh keseriusan Cenda pada dirinya yang hanya produk standar itu. Dia menyalakan mancis api. Sesaat itu, bill sudah ada dimeja mereka.

“Kita mau kemana?” pancingnya pada Cenda. Ringo memeluk bahu kecil itu dan kembali berbisik ditelinganya. “Kemana?”
“Muter-muter aja nikmati malam” ; jawab Cenda.
“Sejak tadi kamu sudah muter-muter nganterin Firly” ;Ringo mengkoreksi jawaban Cenda. “Pulang aja, ya” ;lanjutnya.
Sebenarnya Ringo lebih suka mengajak Cenda pulang karena dia tahu jika Cenda pasti mengekor ke rumahnya dengan alasan tidak ingin lepas darinya.
Cenda hanya tersenyum. Ah, mata itu semakin kecil dari sipitnya.

Denting jam menunjuk arah 00.25 waktu dinihari. Ringo yakin Cenda belum ingin pulang walau tetesan embun mulai jatuh melembabkan rumput yang hanya ada sedikit ditaman kafe. Hingar bingar musik keras diruang lainnya yang masih satu atap dengan tempat mereka duduk terdengat sayup-sayup ketika mereka telah berada diluar.

Jakarta memang tak pernah tidur. Mereka menelusuri sepanjang jalan Matraman Salemba menuju istana kost Cenda di Palmeriam. Cenda menggayut manja dilehernya. Hampir saja dia tak mampu mengendalikan kemudi Hardtop Kanvas kebanggaannya itu. Aroma farfum gadisnya itu menusuk rangsangnya. Dia menjulur lidah meraih daun telinga Cenda. Cenda mendesah. “Bang, lumurkan aku dengan liurmu”.
“Haiya, jorok ah” ;canda Ringo mencubit pipi gadisnya.

Cenda melarangnya menghentikan mobil ketika mereka telah mendekati rumah kostnya. Ringo menuruti. Seperti yang dia duga, bila sudah begini, Cenda justru tak ingin lepas darinya. Mereka kembali melaju diterangi cahaya bulan yang masih memancarkan sinarnya. Tangan Cenda mulai nakal menggerayangi dadanya. Tapi dia sangat suka bila jemari Cenda menari-nari ditubuhnya. Mobil sangat pelan dijalankan. Unchained Melody menemani kemasyuqkan mereka sepanjang birahi. Ringo memandang kesayuan mata Cenda meratapi bibirnya. Hingga tiba diujung jembatan Semanggi, mereka menepi dan berhenti. Jok kiri direbahkan seiring tubuh Cenda menelentang diatasnya. Sekilat tangannya mulai liar meraba-raba buah dadanya. Cenda semakin menyembulkan daging putingnya kemulut Ringo. Dia mengulum dengan penuh semangat hingga Cenda ee……ah..ah..ah, abbbaaaang……

Gemerisik dedaunan mengibas incaran sinar lampu untuk menerobos celah kaca yang sedikit terbuka. Ternyata malam di semanggi tidak mampu memacu hasrat cinta yang semula menegang. Ringo mengajak Cenda ketempat kostnya. Mengiringi napsu yang sempat tertunda untuk kembali dirajut dalam nuansa kamar abu-abu merah warna kesukaannya.

Hem, Ringo mengendus aroma kulit kuning kekasihnya itu. Cenda menggeliat memaksanya untuk mengajak terbang lebih tinggi menggapai awan. Cenda diam saja dan menutup matanya. Semakin berniat dirinya untuk melucuti seluruh benang yang melekat ditubuh Cenda. Dia juga diam. Dan diam untuk pasrah disiram dengan benih cintanya.

Sejenak Ringo mematai tubuh Cenda yang sudah lepas terbuka. Dia melumuri seluruh pori-pori kekasihnya dengan birahinya. Cenda meregang saat bibirnya kembali dikulum. Ringo merengkuh bidang dadanya yang agak kecil itu, diremasnya dengan lembut. Digigitnya puting yang masih merah itu, pusarnya yang lembut, dan, ah…pemandangan dibawahnya itu sangat menakjubkan. Memancarkan aroma khasnya. Cenda menggeliat ketika nafas Ringo dirasakannya telah menyentuh rambut-rambut halus mahkotanya. Cenda membuka peluang bagi kekasihnya itu untuk merenggutnya, memilikinya dengan kasih sayang yang seutuhnya. “Hanya untukmu kupersembahkan segala yang aku punya” ;niat hatinya bulat.

Ringo semakin menelusup dengan kepasrahan Cenda. Sungguh sayang jika mengabaikan sebuah kenikmatan yang mereka butuhkan bersama, karena mereka sama-sama saling suka dan memilikinya dengan kasih sayang.

Mereka bertekat untuk mengikat tali pernikahan bila persemaian cintanya terwujud.

“Untuk gadisku bermata sipit disudut keriuhan Jakarta”
Gong Xi Fa Cai.

Kutaraja, 25/01/09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar