Bulan telah hadir di atas istana tempat pemimpin negeri bersinggahsana. Sorot terangnya menerangi seluruh ruangan yang ada didalamnya. Bahkan, hingga teras dan seluruh pekarangan. Juga dapur akan semakin ber-asap mengepul ruangan.
Bunga-bunga malam tersenyum menyambutnya. Yang baru layu mekar kembali ketika cahaya Tuhan menyapanya. Sinarannya telah mampu membangkitkan kembali hasrat dan ambisi untuk meraih puncak terakhir.
Pertaruhan dan pertarungan menuju RI 1 bakal dilakukan setelah wakil-wakil yang katanya akan mewakili rakyat mendapat pengukuhan. Ajang jual diri dengan tampang yang telah dipoles begitu rupa sudah banyak menghiasi media. Selain itu, tampang yang manis tersenyum itu juga disuguhkan oleh calon-calon wakil rakyat--yang akan memperebutkan kursi parlemen--melalui sepanduk dan baliho yang digantungkan ditempat-tempat keramaian. Diantara spanduk itu ada yang telah putus talinya hingga tergantung-gantung. Tampak jelas kepala calon-calon itu menukik kebawah.
Isu-isu kemakmuran dan kesejahteraan untuk meningkatkan hajat hidup rakyat menjadi tujuan untuk meraih suara terbanyak. Namun, seperti yang sudah-sudah, rakyat tetap saja menjadi rakyat. Bahkan rakyat terlanjur menjadi miskin jika tidak dikatakan sangat melarat. Ekonomi bangsa tetap kropos dan menambah hutang-hutang yang akan dibebankan pada anak-cucu bangsa.
Penduduk Indonesia +/- 230 juta jiwa. Untuk memimpin bangsa yang ramai ini, butuh orang-orang yang serius dan tanggap permasalahan. Dan, yang paling utama dia mampu memenej dengan jiwa kerakyatan serta harus jauh dari kepentingan pribadi atau kelompoknya. Menempatkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat. Tidak mencari kesempatan untuk memperoleh kekayaan diri dan kelompoknya.
Sulit memang mencari sosok yang serupa demikian. Karena bangsa Indonesia telah terdidik korup dan penyeleweng selama rezim orde baru berkuasa. Hingga, kesempatan, aji mumpung telah menjadi tujuan selama waktu masih bisa dikuasai. Dan sampai sekarang ini, praktek-praktek tersebut terus berjalan karena teori yang diperolehnya belum dibuang jauh. Entah kapan semua keburukan ini akan berakhir?
Terlepas dari semua permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia, rakyat juga tidak bisa hanya berdiam diri saja. Walaupun secara jujur terucap; itu bukan kesalahan kita. Karena kita rakyat biasa yang hanya mencari dan mendukung. Amanah telah kita berikan untuk memperbaiki dari kesalahan. Sistem yang tidak baik harus dapat dirubah. Karena rakyat adalah pemilik kedaulatan.
Sekarang saatnya untuk memastikan siapa yang pantas dipilih untuk memimpin bangsa yang besar dan sangat kacau balau ini. Sekali lagi, kita hanya bisa memilih tapi tidak bisa menentukan.
Semoga Indonesia menuju perubahan!
Jakarta, 09/01/09
Tidak ada komentar:
Posting Komentar