21 Februari 2009

Ketika Badai Datang

MENGAPA.........?

"Mungkin ada benarnya kalau janji-janji itu palsu." kata Anu dalam sebuah perbincangan di warung kopi sore itu saat stasiun televisi lokal menayangkan berita tentang strategi dan langkah pembangunan masyarakat pedesaan pasca bencana.
"Seperti hari-hari yang lalu, hari ini pun dan mungkin pada hari-hari esoknya lagi juga begitu." jawab Pilun dengan sinisnya sambil melirik kaos oblong yang dikenakan oleh Reudok bergambar pasangan calon penguasa dalam pemilihan kepala daerah, kita sebut saja 'Kota Semak'setahun yang lalu.

Reudok yang dimaksud adalah salah seorang tim sukses dari pasangan bakal calon pemimpin kota yang sore itu entah kebetulan dia memakai kaos berlambang orang yang dijagokannya.
"Kursi empuk sudah diraihnya," timpa Anu lagi dengan muka agak memerah. "buka bajumu akan kujadilan serbet, meja ini agak kotor tolong dibersihkan dengan kaosmu itu."
Reudok marah dan marah sekali! Sejenak kepalanya menoleh kebawah tepat diantara dada dan perutnya. "kau lihat, dia tersenyum, senyum kemenangan." bangga Reudok membalas.

Reudok, figur publik kota (begitu orang-orang kalangan dia mentokohkannya) tidak pernah punya pendirian tetap, disukai orang pada saat diperlukan dan banyak teman. Sebenarnya dia bukan asli orang Semak, dia datang ke kota Semak enam belas tahun yang lalu dari kota Entah Dimana. Bekerja sebagai tukang rayu, kadang juga dia punya profesi lain atau sampingan sebagai wali bicara. Tinggal bersama adiknya yang baru datang dari daerah asalnya disebuah rumah kontrakan milik Bang Lades. Adiknya bernama Tulo, masih kuliah di jurusan cet langet semester ganjil. Hidup rukun dan damai adalah pilsafah kakak beradik ini, selalu kompak apalagi pada awal-awal bulan karena Reudok harus menutupi angsuran sepeda motor yang dikreditnya tujuh bulan lalu, konon katanya hadiah keberhasilan dari kerja kerasnya sebagai tim sukses, namun masalah angsuran kredit harus dia rogoh koceknya sendiri sambil menanti amprahan yang tidak pernah keluar.
"Dik, pinjamkan aku uang untuk bayar setoran sepeda motor itu." pintanya suatu sore.
"Uangku belum dibayar, bang. Nantilah aku tagih dulu." janji Tulo sambil meminjam sepeda motor abangnya dia menuju kerumah mandor Ragi alias Radio Gigi sang pengawas proyek bangunan satu setengah tingkat tempat dia mensuply material.
"Yah, cepat kau kesana, jangan lupa kau belikan aku rokok,ya?" mohonnya lagi.
"Uangnya bang." tagih Tulo.

Sekilas cerita tentang kota Semak, kota yang pernah hancur dan mati oleh serangan Tuan Sunami dari Kerajaan Laut Raya tiga tahun lalu. Kota Semak dibawah asuhan Propinsi Semrautan dari pusat negeri Entah Dimana.
Badai pasti berlalu, lagu tersebut kerap ditayangkan oleh stasiun televisi waktu itu sejak badai terjadi, mungkin hanya sebagai pelipur hati yang sedih bagi korban yang terkena musibah. Tiga tahun sudah berlalu masa-masa kesedihan dan tiga tahun juga masa-masa kebangkitan korupsi dana bantuan yang dipelopori oleh Badan Rugikan Rakyat (BRR) bentukan pemerintah Entah Dimana terjadi begitu rakus.
"Ya, jelas rugi lah kita." tegas Anu sambil memperlihatkan berita dikoran pagi kepada Pilun disebelahnya. "Baca! masa uang bantuan korban dari sumbangan donatur asing yang mestinya untuk kita dibelikan alat perang, sungguh keterlaluan BRR." geramnya.
Pilun melotot, sambil menyeruput kopi panas yang tidak terasa panas lagi. Badan Rugikan Rakyat (BRR) yang katanya sangat profesional dalam mengatur uang bantuan korban bencana ternyata hanya ahli dibidang Sunat Sana Sunat Sini Untuk Sendiri (S4US).

Anu melupakan argumennya dengan Reudok sesaat dia serius mengamati berita dikoran yang mewartakan tentang keburukan kinerja Badan Rugikan Rakyat yang katanya tidak memberikan manfaat nyata bagi korban bencana. Merah kuping dan sesak pikiran bercampur dan telah menggerogoti hatinya bagaikan diiris dan terasa muak. Badai belum pasti berlalu bila waktu tidak diakhiri.

Kota Semak memang ada perubahan tapi tidak nyata dibandingkan dengan jumlah dana yang mestinya harus didanakan untuk membenahnya. Kawasan yang langsung terkena dampak bencana belum semuanya terbenahi. Masa tugas BRR hampir berakhir diujung tahun dan siapa yang akan bertanggung jawab untuk melanjutkannya..?
Buah nangka mulai dikupas untuk persiapan hidangan akhir masa, Bagi yang datang duluan pasti isinya yang dimakan dan siapa yang menyusul belakangan hanya getah bagiannya.

Kota Semak mempunyai beberapa desa administratif, salah satunya adalah Desa Peurancot dan sangat produktif dalam bidang olah mengolah Sumber Pendapatan Pribadi. (SPP) oleh para pemimpin serta aparatur dibawahnya. Desa Peurancot berpenduduk hampir lima ribuan jiwa dengan jumlah kk hampir dua ribu. Sebenarnya kekayaan ekonomi atau Pendapatan Asli Desa (Pade) cukup lumayan bila dilihat dari harta warisan yang diwakafkan oleh orang-orang baik hati
di jaman dulu untuk keperluan desa agar dimanfaatkan bagi kemaslahatan warga masyarakat.

Reudok bagian dari warga masyarakat biasa, bukan elemen tertentu dari unsur perangkat desa. Tapi kadang-kadang sangat kritis dalam mensikapi perkembangan didesa yang tidak konstruktif dalam pengaturan dan keputusan yang dilaksanakan oleh aparatur. Bukan karena dia seorang pendatang didesa Peurancot, namun begitulah naluri seseorang yang selalu ingin melihat perkembangan dalam kesehariannya dan senantiasa punya waktu dalam mengamati kehidupan sosial masyarakat, di desa yang sudah dia jadikan tempat akhir hayatnya.
Pada saat awal bencana terjadi, masyarakat desa Peurancot tercerai berai tanpa terhimpun yang mestinya masalah ini harus ditanggapi oleh aparatur-aparatur desanya. Tapi sang penentu keputusan desa saat itu juga menghindar meninggalkan warganya dan masing-masing mengurus dirinya sendiri serta keluarganya.
Tidak ada ketauladanan yang mesti ditiru dari penentu keputusan desa saat itu karena sikap dan tingkah lakunya tidak mencerminkan seorang pengayom.
Reudok beruntung masih selamat, masih berkiprah dalam kehidupan sosial masyarakat walau bukan sebagai unsur kelembagaan desa tapi tetap menyatu dengan unsur kemasyarakatan.

Bencana memang menyengsarakan. Masyarakat saat itu harus berusaha mencari bantuannya sendiri demi mendapatkan pangan serta kebutuhan yang cukup bagi keluarganya. Masing-masing harus ditempuh dengan caranya sendiri, mencari sumber dan pusat penyaluran bantuan.
Ketika mulai tercium, bahwa ada bantuan atau sumbangan, yang mungkin melampaui dari bau mayat-mayat shuhada yang masih terbujur karena belum sempat diurus, maka ketika itulah sesuatu terlihat bahwa keputusan aparatur desa kembali dijalankan.
Karena sesuatu dan banyak hal, maka oleh pimpinan serta aparatur desanya timbul rencana tamak ingin memperkaya diri tanpa peduli pada warga masyarakat yang sudah jatuh tertimpa bencana lantas tertipu lagi oleh kemunafikan.
Dalam sebuah rapat desa yang sengaja dirapatkan oleh sekelompok aparatur desa pilihannya sendiri, maka dibuatlah aturan yang tujuannya hanya untuk memakmurkan kalangan sendiri. Sumbangan dihimpun, disusun dan dibagi untuk dijadikan kategori. Ini untuk si ini dan itu untuk si itu. Data mulai dikaburkan sehingga tidak pernah jelas.
Praktek pengaburan ini sungguh sistematis dalam pelaksanaannya sehingga masyarakatpun selalu bertanya dan bertanya selalu tanpa pernah tahu jawabannya.

Reudok marah, dengan berkacak pinggang dia menunjuk salah seorang pengurus urusan bantuan yang ternyata tidak pernah dipilih dan tidak diketahui oleh warga untuk menjadi panitia urusan bantuan dan lain-lain.
"Kita sama-sama korban, jangan meng-anak kandung dan tirikan warga." jarinya menunjuk pada hidung pengurus yang sedang menjatahkan beras bantuan tersebut.
Anu dan kawan-kawan datang terlambat, lama dia menunggu karena namanya belum disebut. Masyarakat masih banyak yang antri sementara terlihat barang-barang bantuan sudah menipis. Petugas pengurus tampak bingung, hp selular diangkat dan terjadi pembicaraan yang sangat sayup didengar bahkan oleh orang yang berdiri disampingnya.

Hujan gerimis mulai turun, sore hampir larut sementara dalam penantian sekarung beras bantuan belum terjawab. Tiba-tiba datang kenderaan pick-up dengan bak belakang tertutup. Masyarakat ikut membantu menurunkan beras, mie instan dan lain-lainnya dari kenderaan tersebut.
Anu sedikit gembira bercampur heran. ‘sungguh kayakah aparatur kita yang mempunyai gudang penyimpanan ditempat lain?.
"Olah, kawan!" bisik Pilun disebelahnya menuding petugas pembagian dari aparatur didikan kalangan sendiri itu.

Reudok larut dalam kerumunan warga yang sedang menanti bantuan. Dirinya kembali mengenang peristiwa tragis beberapa waktu yang lalu ketika dia pada saat itu sedang membersihkan kandang burung kesayangannya.
Di hari minggu pagi yang cerah, tanpa ada tanda-tanda, kota Semak bergetar, masyarakat desa Peurancot panik ketika bumi bergoncang. Tanah dipijak terayun-ayun.
"Alam murka." kata Reudok pada adiknya Tulo sambil dia memegang tiang sokong sebuah bangunan yang belum siap. ‘Tuhan, selamatkanlah kami’.
"Kita lari ke tanah kosong itu bang, disini tidak aman." jawab Tulo ketika dia melihat bahwa bangunan disampingnya itu mau rubuh. "Gempanya kuat betul bang."
Ada anak kecil di pangkuan ibunya yang menangis ketakuatan, ada seorangnya lagi keluar dari rumah berlari tanpa penutup bawah selangkangannya. "Hei, nampak tuh." tunjuk Tulo pada seorang lelaki yang lari ketakutan menuju tempat mereka berdiri. Tulo memberi dia selembar koran yang tadinya dibaca."Tutup!" katanya malu.

Gempa berskala besar terjadi dengan tiba-tiba ketika pagi masih diam karena ada sebagian masyarakat yang belum terjaga, mungkin karena hari minggu. Bang Lades pulang dari pasar, dengan tergopoh-gopoh dia menyandarkan scoternya sambil melihat rumah-rumah kontrakan miliknya. 'Alhamdulillah, masih utuh’: senyumnya hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. ‘Tuhan masih menjaga hartaku’: dalam hatinya.
"Dikota ada toko yang roboh, ayo kita lihat." ajaknya pada Tulo setelah gempa mulai reda.

Baru saja Bang Lades hendak menghidupkan scoternya, gempa beraksi lagi dengan kekuatan yang sama. Masyarakat mulai panik ketika ada yang lari dan berteriak dijalan, orang tua sibuk memanggil anak-anaknya dan dijalan semakin ramai.
Ada suara kepanikan ‘air laut naik, air laut naik’. Tulo langsung masuk kedalam rumah untuk mengambil surat-surat penting dari lemari, "kuncinya dimana bang." tanya dia panik karena ada beberapa lembar bon tagihan material yang dia supplay pada sebuah proyek bangunan yang belum diselesaikan pembayarannya. " Ini harus diselamatkan." bisiknya dalam hati sambil berharap bila tuhan masih memberi dia umur panjang.

Sesaat diatas scoternya, bang Lades mohon ampun pada Tuhan ketika dia menoleh keatas ada burung-burung laut berterbangan, langit sudah hitam dan dari belakang tampak seperti awan pekat menyerupai kepala ular sendok. ‘Ini mungkin akhir hidup, taubat kita belum pas’: ketakutan dia jika hari ini betul-betul akhir segalanya.

Dengan sigap atau mungkin takut mati, dia langsung tancap langkah berlari belum tentu arah kemana. Dengan gemuruh suara yang tidak pernah dia dengar sebelumnya, ratusan bahkan ribuan masyarakat tumpah dijalan, berlari menyelamatkan diri tanpa kenal lagi siapa dan dengan siapa berpapasan. Suara tangis anak-anak, jeritan ibu-ibu dan orang-orang tua yang jatuh dan bangun lagi hampir tidak terdengar lagi ketika gemuruh ombak yang menghantam bangunan, pepohonan dan semua yang ada didarat tersapu hancur. Berlari dan terus berlari, satu-satu dan hampir semuanya disapu gelombang laut yang mendarat. ‘Laaillah’haillallah, selamatkan kami ya Allah’: doa yang sayup-sayup masih terdengar dari yang selamat tersangkut diatas pohon-pohon dan atap-atap rumah yang tersisa.

Gelombang pasang, itu yang diketahui dan biasa terjadi bila purnama tinggi dan penuh. Namun gelombang tsunami bukanlah bahasa yang pernah didengar, masyarakat tidak paham karena pengetahuan tentang bahaya tsunami memang tidak pernah diberitahukan dan pada tingkat skala berapa gempa yang mendatangkan tsunami.

Saat ini sudah tiga tahun musibah yang sangat memilukan itu berlalu. Banyak warga masyarakat yang belum bisa melupakannya bila setiap melintasi kuburan masal ada tertulis “tempat peristirahatan para shuhada”. Reudok bersyukur masih diberi waktu untuk menyusun hari-harinya dalam bingkai amalan yang dirangkainya begitu indah. Biarlah orang lain dengan tingkah dan polahnya sendiri, biarlah aparatur di desanya menganut “sistem meraih kesempatan bahwa hari ini adalah untukku dan esok lusa aku bukan disini lagi”, biarlah masyarakat mengatur hidupnya sendiri dengan kemampuan dan keahliannya masing-masing.
Biarlah semuanya berjalan menurut waktu.

Semilir angin menerpa dedaunan yang masih tersisa. Dingin kian merasuk hingga kerelung hati. Senja hampir lunas menunaikan hari dan butir-butir malam mulai menyapa. Ada saat kita bersatu dalam prinsip dan kadang kala juga berseberangan untuk sebuah ideologi.
Reudok pamit pada Anu, Pilun dan teman-teman yang lainnya, kopi panas sore itu sudah dua gelas dia minum dan pada tegukan terakhir dia tersenyum kembali. "perdebatan itu perlu, kawan." kedip matanya sebelah. Dan kaos oblong yang dikenakan sore itu bukan lagi sebuah persoalan karena semua sudah berlalu.

Kota Semak mulai gelap, malam sudah hadir ketika Reudok hampir terlelap diranjang tidurnya saat alunan lagu milik penyanyi legendaris yang sudah almarhum itu mengakhiri bait-bait syairnya. Badai pasti berlalu, pesan asli sang penyanyi kepada penggemarnya.
Anu dan Pilun melewati rumahnya ketika mereka pulang dari balai warga sehabis mengikuti rapat desa yang juga dihadiri oleh unsur-unsur perangkat desa.
Entah karena tidak tercapai kesepakatan dalam rapat desa tadi, Anu menyahuti syair dari alunan lagu itu ‘badai tsunami sudah berlalu tapi badai ketamakan dari aparatur desa belum berakhir’.
Pilun menimpali "selama mereka diberi kesempatan berkarya maka segala hal yang kita lakukan untuk kemasyarakatan tidak pernah terpenuhi, kasihan warga."

Punge Blang Cut,Bna, Des'05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar