Kehadiran kembali di tanah asal, kembali seperti biasa, menyongsong pagi dan sore, selanjutnya malam untuk menjemput kembali fajar. Saat kembali disini ditanah leluhurku, tanah yg telah tersapu dari badai gelombang tsunami, setelah lebih dari setahun hidup dibarak pengungsian di tempat penampungan sementara.
Tanahku darahku! Dan itu artinya seluruh tubuh dan belahan jiwa tetap ditanah tempat leluhurku (indatu)
Ketika anda berkunjung ke Kota Banda Aceh, anda pasti tidak melupakan untuk melihat keajaiban, kuasa Tuhan, sebuah Kapal PLTD Apung milik PLN dengan bobot 4500 ton, kini berlabuh didaratan tanah tumpah darah kami, Punge Blang Cut. Kenapa disebutkan tanah tumpah darah? karena memang tanah kami yg pernah ditumpahi darah warga yg tidak berdosa oleh serangan tentara dari sebuah bataliyon di Banda Aceh, kala itu malam di tahun tujuh puluhan. Ini bukti sejarah bahwa patriot tetap berada di tanah tumpah darahnya. “Apapun yang terjadi”
Kembali mata mengarah ke lokasi berlabuhnya Kapal PLTD Apung saat matahari siang menebar teriknya panas dan gersangpun semakin terasa. Kini sudah tiga tahun lebih bencana alam gempa dan gelombang tsunami yg menghancurkan bumi Serambi Mekkah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Negeri Indonesia Raya sudah berlalu, namun belum terlupakan. Masih banyak lukisan kesedihan yang lepas dengan sendirinya tanpa ada yg menyambutnya. Tubuh kapal yang kian tua itu boleh rapuh dimakan usia, namun tapak-tapak kaki penduduk asli tidak akan hilang dari asalnya dan akan terus membekas ditanah tumpah darah mereka.
Kapal PLTD Apung, terhempas dari permukaan laut Ulee Lheue sejauh +/- 5 km, sebagai bukti kemurkaan alam dan bala Allah SWT kini masih sombong menapak di tanah tumpah darah kami di Kelurahan Punge Blang Cut Kecamatan Jaya Baru Kota Banda Aceh Prov. Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia Raya. Kelurahan dengan penduduk yang hampir mendekati 6000 jiwa sebelum tsunami, dan kini hanya tinggal +/- 4000 jiwa setelah tsunami. Banyak anak-anak menjadi yatim, piatu dan bahkan yatim piatu karna kehilangan orang tua dan orang tua yang kehilangan anak-anaknya.
Ada cerita yg masih menempel dibalik dinding-dinding besi tua itu dan banyak kisah yg masih menganga di buritan dan geladak mesin PLN tersebut. Semuanya menjadi saksi ketika muncul sebuah rencana dari keangkuhan waktu, masyarakat mulai resah dan gelisah kapan waktu itu akan datang. Waktu yang akan memisahkan kekerabatan warga sebuah lingkungan, sungguh akan mengiris hati bila perceraian dengan tanah rezekinya ini terjadi. Semua akan tampak lain jika sesuatu akan tercerai berai, terhapus dari pandang yang dulunya sangat indah. Mungkin hanya tingal air mata disepanjang tanah peninggalan leluhurnya.
Tanah tumpah darah yg pernah punya sejarah kepatriotannya, kekompakan dan persaudaraan yg melekat erat di setiap sanubari masyarakatnya, mungkin akan meninggalkan kenangan manis. Dimana pada saat keberanian dan jiwa tegar demi mempertahankan martabat kampong /desa kala itu, tak tergoyahkan dari serangan manapun. Tanah leluhur kita memang pernah bertumpahan darah dari patriot-patriot warga yang mestinya pantas disebut pahlawan desa.
Punge Blang Cut, salah satu kelurahan dalam wilayah Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memang banyak menyimpan cerita dan kisah heroiknya. Dan kini sejak Kapal PLTD Apung berlabuh di daratan tanah merah leluhur, akan makin banyak lagi terjadi kisah dan cerita yang mungkin kelak sebagai sejarah untuk anak cucu tercinta yang masih tersisa. Kini sebagian jengkal dari seluruh tanah merah milik leluhur yang sudah turun temurun menjadi istana, sudah tergadaikan / terjual dengan ganti kerugian yang mungkin sangat minimal menurut ukuran harga saat ini. Hanya demi sebuah rencana pembangunan monumen tsunami yg dimaster plankan seluas +/- 4 ha dan hingga saat ini belum ada kejelasan pasti seperti apa sebenarnya dan berapa rupiah atau bahkan dolarkah yang harus dihabiskan untuk mewujudkannya. Sementara masih ada para korban yang sampai saat ini belum terpenuhi hajat hidupnya, belum memiliki rumah tinggal permanent dan masih “terpaksa” menumpang dibarak-barak pengungsian.
Sungguh ironis memang jika hayalan sebuah rencana dapat melupakan hakikat yang sebenarnya yaitu mewujutkan kepentingan yang mesti dijalankan sesuai amanah. Karena dalam setiap menyusun sebuah rencana untuk proyek pembangunan memang perihal keuntungan bagian dari imbalan kerja yang diharapkan. Ini sudah menjadi pedoman umum bahwa bagi hasil bagian dari perencanaan yang akan disetujui dan apabila mendesak maka percepatannya akan ditularkan sampai ketingkat paling bawah.
Pembangunan monument tsunami Kapal PLTD Apung yang telah menggerogoti tanah milik warga dengan pembayaran ganti rugi yang sangat kecil dan akan semakin kecil rasa kepercayaan terhadap perencanaan tersebut jika wujud dari master plan-nya tidak tersosialisasikan dengan jelas. Pengkaburan dari sebuah rencana tersebut terhadap warga masyarakat Punge Blang Cut khususnya dan masyarakat luas pada umumnya akan memunculkan isu-isu hangat yang semakin berkembang. “Apakah tanah kami akan digadaikan lagi ke pihak asing..?, berapa keuntungan yang akan diperoleh dari perencanaan tersebut”. Hanya waktu yang dapat menjawab sampai dimana kearifan dari sebuah hayalan itu.
Waktu terus berjalan ketika tanah merah leluhur hampir terlupakan. Kapan akhir untuk menghitung hari karna kelelahan dan keletihan tidak selamanya melekat. Semuanya mungkin hanya tinggal dalam sebuah kisah dan entah kapan kami akan berpisah.
Punge Blang Cut,Bna Jan'06
Tidak ada komentar:
Posting Komentar