aku malu menangis karena terasa berat tertawa
aku pun tak ingin tertawa karena sangat susah menangis
aku bukan menangis dan tertawa
apakah aku harus bicara atau mengemis....?
aku melihat kelebat rumput rumput tapi tak ada angin
aku pandang di langit masih ada bulan dan bintang bersimpul
aku pergi melihat serumpun daun di tanah yang telah mengering tak lagi mencium hujan
tapi aku temukan sebongkah lumut yang masih hijau menukik terjal
aku tak ada lagi di ujung jalan yang pernah engkau temui
tapi engkau jangan bimbang walau aku jauh sudah terpaut pandangmu
aku masih tetap mengingatmu meski pun hujan dan terik tak sering sehati
jauh pun rasanya dekat apalah dikata bila dekat pun kita masih sama merindu
senyum saja bila bersedih
sebab duka bukan untuk di jamak
kita akan keluar dari kerudung yang perih
percayakan pada kasih dan cinta serempak
Jambo Teumuleh
20 Januari 2010
12 Januari 2010
senja hampir malam
menyepih senja setiap hampir malam
hendak meraut asa dari rindu yang kelam
hanya sepihak meretas jingga sepanjang luka
dia disana, anak anak disana, senantiasa bersama lara
mengiring langkah menapak lesu dimuka pasi
diatas pasir putih menggores hari hari
waktu diujung senja dipercik busa busa putih
mengalir deras nestapa langit semburkan merah
beberapa titik sudah menetes digaris pipi
sejurus mata jauh memandang
tampak perahu layar ada yang menuju pulang
tapi bukan dia diharapan hati
“tujuh senja sudah menanti tak kunjung datang
wahai dunia selaut beritakan sekarang
dimana gerangan bahtera kami berlabuh
rindu meruah sang nahkoda kami serumah”
“bapak, laut sangat luas
labuhkan kembali hatimu untuk kami
jangan pergi sebelum lepas rindu kami
masih terlalu singkat waktu cengkerama dengan buah hati
mereka belum habis menuang cerita sepenuh hati”
dia perempuan setengah baya
dia bersama anak anak merana
dia meniti beranda laut menuju malam
dia dan anak anak setiap senja hampir malam
“tapi bapak tidak pernah kembali dari laut”
hendak meraut asa dari rindu yang kelam
hanya sepihak meretas jingga sepanjang luka
dia disana, anak anak disana, senantiasa bersama lara
mengiring langkah menapak lesu dimuka pasi
diatas pasir putih menggores hari hari
waktu diujung senja dipercik busa busa putih
mengalir deras nestapa langit semburkan merah
beberapa titik sudah menetes digaris pipi
sejurus mata jauh memandang
tampak perahu layar ada yang menuju pulang
tapi bukan dia diharapan hati
“tujuh senja sudah menanti tak kunjung datang
wahai dunia selaut beritakan sekarang
dimana gerangan bahtera kami berlabuh
rindu meruah sang nahkoda kami serumah”
“bapak, laut sangat luas
labuhkan kembali hatimu untuk kami
jangan pergi sebelum lepas rindu kami
masih terlalu singkat waktu cengkerama dengan buah hati
mereka belum habis menuang cerita sepenuh hati”
dia perempuan setengah baya
dia bersama anak anak merana
dia meniti beranda laut menuju malam
dia dan anak anak setiap senja hampir malam
“tapi bapak tidak pernah kembali dari laut”
31 Desember 2009
semalam saja
telah aku telusuri seluk beluk uratmu
ketika subuh belum genap meraba nadi
dari semalam masih ada sisa di jantungmu
dalam keringat dingin kubawa mimpi pagi
aku telah usai merambah hutan keringmu
sebab mimpi tidak lagi di pertemuan pagi
merangkak siang pun lelah menghitung waktu
karena dirimu tak mampu lagi mengangkat birahi
kutelaah garis garis kulitmu
kamu menungkup tak sudi lagi
kucoba membuat alur di belahan dadamu
kamu semakin tenggelam jauh tak pasti
langit langit kamar hanya semalam membisu
sebaiknya tamatkan saja tanpa ada bakti
jalanku ke barat dan ke timur jalanmu
kita berpisah walau tak pernah berjanji
ketika subuh belum genap meraba nadi
dari semalam masih ada sisa di jantungmu
dalam keringat dingin kubawa mimpi pagi
aku telah usai merambah hutan keringmu
sebab mimpi tidak lagi di pertemuan pagi
merangkak siang pun lelah menghitung waktu
karena dirimu tak mampu lagi mengangkat birahi
kutelaah garis garis kulitmu
kamu menungkup tak sudi lagi
kucoba membuat alur di belahan dadamu
kamu semakin tenggelam jauh tak pasti
langit langit kamar hanya semalam membisu
sebaiknya tamatkan saja tanpa ada bakti
jalanku ke barat dan ke timur jalanmu
kita berpisah walau tak pernah berjanji
05 Juli 2009
Sabang oh Sabang
sabang, sejak delapan lima hingga hari ini
habis terang terbitlah gelap
habis gelap habislah sudah
jengek jengek pun kini sudah terlelap
jangan mengharap hadir bahtera berlayar
sebab rindu pada sabang hill telah melumut
jhoni walker dan sivas hanya botol kosong
levi's dan amco yang lembut padat tiada lagi
berdesah memang sudah
berharap, kepada siapa...?
habis terang terbitlah gelap
habis gelap habislah sudah
jengek jengek pun kini sudah terlelap
jangan mengharap hadir bahtera berlayar
sebab rindu pada sabang hill telah melumut
jhoni walker dan sivas hanya botol kosong
levi's dan amco yang lembut padat tiada lagi
berdesah memang sudah
berharap, kepada siapa...?
Langganan:
Postingan (Atom)